Tafsir Puisi Deddy Rahman : Pengkhianatan, Ingkar Janji, Budaya Dusta dan Rindu

Rohmat Darsono • 📅 7 Oktober 2025

Menelusuri makna kesedihan, kekecewaan, dan doa dalam perjalanan batin menuju Tuhan.

Puisi Deddy Rahman

taburan hujan di Malam kelam
membias seakan langit menangis ....
sekelumit Lara berselubung dalam munajat doa.....
derita tertuang dalam bejana sengsara..
Di pangkal barat aku berteriak memanggilNya...
Di ufuk timur aku menangis dalam rindu ...
sengsara membalut di rundung siksa
gelap hampa dalam derita,sebab janji selalu diingkrari...
lalu dustapun menjadi budaya....
biarlah tubuh Malang berpeluk hampa
biarlah air mata ini bercampur nestapa....
Sebab aku bermula dari tanah nista,
kemudian menjadi air yang hina...
dan lahir dari rahim ibunda tercinta,
lalu menjadi makhluq yang mulia...
biarlah air mata ini bercampur nestapa,
karna semuanya menjadi hampa..
biarlah biarlah tubuh malang berpeluk hampa,
dari janji yang selalu diikrarkan,namun senantiasa diingkari,ahirnya melingkar menjadi dusta...
gelap hampa dalam derita,dari janji yang diingkari...
Kecewa membalut di rundung hampa dalam gelap....
Kecewa membalut di rundung gelap dalam hampa...
Kecewa membalut di rundung siksa dalam gelap gulita...
Merana....

Prayer times Shubuh for Today 04.04 am.
7 November 2017 M
18 Shafar 1439 H
Stay tuned 105.5 FM Dialog Islam
04.00 - 06.00 wib
phone service
022 5205383 - 022 7217519.

1. Pendahuluan

Puisi yang ditulis oleh “Deddy Rahman” merupakan karya yang sarat makna dan emosi, menyingkap sisi terdalam dari perenungan manusia terhadap hidup, penderitaan, dan harapan. Dalam setiap lariknya, pembaca diajak menyelami suasana batin yang gelap dan penuh luka, namun tetap menyisakan cahaya spiritual di ujung doa. Karya ini bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan refleksi batin yang menggambarkan perjalanan jiwa yang terluka, kecewa, tetapi masih berusaha menemukan Tuhan di tengah keputusasaan.

Nuansa yang terasa kuat dalam puisi ini adalah kesedihan, kekecewaan, dan kerinduan spiritual. Hujan malam menjadi simbol duka, kegelapan melambangkan kehampaan, sementara doa menjadi jembatan menuju harapan. Deddy Rahman seolah menulis dari kedalaman hati seorang manusia yang lelah oleh dusta dan pengkhianatan, namun tetap setia mencari makna sejati hidup melalui hubungan dengan Sang Pencipta.

Yang menarik, puisi ini tampak lahir dari suasana menjelang Subuh — waktu yang sering dianggap sebagai momen paling sunyi dan sakral untuk bermuhasabah. Di bagian akhir, penyair menutupnya dengan lafaz doa Arab klasik, “Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nushur,” doa yang biasa dibaca saat bangun tidur. Setelah itu, muncul catatan waktu dan jadwal siaran radio keagamaan, “Stay tuned 105.5 FM Dialog Islam, 04.00–06.00 WIB.” Rangkaian ini memberi konteks kuat bahwa puisi tersebut lahir di antara keheningan malam dan panggilan spiritual menjelang fajar, menghadirkan perpaduan antara perenungan pribadi dan nuansa religius yang mendalam.

Puisi Deddy Rahman dengan demikian bukan hanya sebuah karya sastra, tetapi juga renungan eksistensial dan spiritual yang menggugah. Ia berbicara tentang manusia yang terluka oleh janji yang diingkari, oleh kebohongan yang menjadi budaya, namun tetap berusaha berdiri dan memohon pada Tuhan. Sebuah karya yang layak dibaca, direnungkan, dan dihayati—terutama bagi siapa pun yang tengah mencari makna di antara luka dan cahaya.

2. Simbol dan Makna dalam Puisi

Puisi Deddy Rahman kaya akan simbol dan makna tersembunyi yang menggambarkan perjalanan batin manusia. Setiap baitnya memuat lapisan emosi yang mendalam — mulai dari kesedihan, pencarian spiritual, hingga refleksi moral tentang kehidupan sosial. Melalui pilihan kata yang puitis, penyair menghadirkan suasana yang gelap namun penuh renungan. Berikut penjelasan makna simbolik yang terkandung di dalamnya:


a. Alam sebagai cermin kesedihan

Dalam puisi ini, alam menjadi cermin yang memantulkan isi hati penyair.

Melalui simbol-simbol ini, penyair mengajak pembaca merasakan bagaimana kesedihan pribadi dapat menyatu dengan kesedihan alam semesta.


b. Doa sebagai pelarian

Ketika derita tak tertahankan, penyair mencari pelarian melalui doa.

Simbol ini memperlihatkan bahwa doa bukan sekadar permohonan, melainkan jalan untuk kembali menemukan makna hidup di tengah kekosongan.


c. Derita sebagai wadah hidup

Puisi ini juga menggambarkan hidup sebagai “bejana sengsara”, wadah yang menampung penderitaan manusia.

Namun di balik itu, tersirat kesadaran bahwa penderitaan bisa menjadi bagian dari proses penyucian diri.


d. Kesadaran eksistensial

Salah satu bagian paling filosofis dari puisi ini adalah refleksi tentang asal-usul manusia.

Makna ini menegaskan kesadaran eksistensial bahwa kemuliaan sejati bukan berasal dari dunia, tetapi dari pengakuan terhadap asal dan tujuan hidup yang dikehendaki Sang Pencipta.


e. Kritik sosial

Puisi ini juga menyelipkan kritik sosial yang tajam.

Simbol ini menegaskan bahwa penderitaan manusia bukan hanya soal batin, tetapi juga akibat moral yang membusuk di sekitarnya.


f. Repetisi penderitaan

Penyair menggunakan pengulangan kata-kata seperti “gelap, hampa, kecewa, merana” untuk memperkuat efek emosional.

Maknanya, manusia sering terjebak dalam lingkaran penderitaan yang terus berulang, namun tetap mencoba bertahan.


g. Doa penutup

Puisi ditutup dengan doa bangun tidur dalam bahasa Arab, sebuah kalimat yang penuh makna spiritual:

“Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nushur.”

Doa ini melambangkan kesadaran akan hidup dan mati, sekaligus harapan akan kebangkitan dari keputusasaan. Di sini, penyair menegaskan bahwa di balik setiap gelap dan derita, selalu ada cahaya keimanan yang memulihkan jiwa.


Melalui simbol dan makna yang berlapis, Deddy Rahman berhasil menghadirkan puisi yang tidak hanya menyentuh sisi emosional, tetapi juga menyadarkan pembaca akan pentingnya kejujuran, doa, dan pencarian makna hidup. Ia menulis bukan untuk sekadar menggugah rasa, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap manusia punya jalan pulang — menuju Tuhan.

3. Tafsir Keseluruhan

Puisi Deddy Rahman dapat dipahami sebagai jeritan batin seorang manusia yang penuh kekecewaan terhadap kehidupan yang kian jauh dari nilai kejujuran dan ketulusan. Dalam setiap lariknya, terasa ada pergulatan antara harapan dan kenyataan, antara cinta pada kebenaran dan luka karena pengkhianatan. Penyair seolah ingin menumpahkan seluruh perasaannya melalui kata, menjadikan puisi ini bukan sekadar karya sastra, tetapi juga curahan jiwa yang menggambarkan penderitaan batin dan pencarian spiritual.

Puisi ini memadukan penderitaan pribadi dan kritik sosial dengan sangat halus. Di satu sisi, penyair berbicara tentang luka batin akibat janji yang diingkari dan kebohongan yang menjadi budaya. Di sisi lain, ia juga menyoroti krisis moral yang melanda masyarakat — di mana kejujuran tergantikan oleh kepura-puraan, dan kebenaran menjadi sesuatu yang mudah diperdagangkan. Gabungan dua aspek ini menjadikan puisi Deddy Rahman tidak hanya relevan secara emosional, tetapi juga kontekstual dengan realitas sosial saat ini.

Namun, di balik kegelapan yang disuguhkan, tetap ada arah pulang yang terang: kerinduan dan harapan kepada Tuhan. Penyair menyadari bahwa di tengah kehampaan dan penderitaan, hanya Tuhan yang menjadi tempat kembali. Doa di penghujung puisi bukan sekadar ritual, melainkan simbol kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk bangkit dan memperbaiki diri. Kalimat doa yang menutup puisi — “Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nushur” — menjadi penegasan bahwa setelah mati, ada kehidupan; setelah derita, ada kebangkitan; dan setelah kecewa, selalu ada harapan.

Secara keseluruhan, puisi Deddy Rahman adalah lukisan spiritual tentang perjuangan manusia antara dosa, duka, dan doa. Ia mengingatkan pembaca bahwa kesedihan bukan akhir dari segalanya, melainkan jalan menuju kesadaran yang lebih tinggi. Dalam dunia yang penuh dusta dan janji palsu, penyair memilih untuk tidak menyerah — ia menunduk dalam doa, menemukan kembali makna hidup melalui iman, dan mempercayai bahwa setiap air mata yang jatuh akan menemukan tempatnya di hadapan Tuhan.

4. Penutup

Puisi Deddy Rahman memberikan pesan mendalam tentang kehidupan manusia yang tak pernah lepas dari luka dan kekecewaan, namun tetap memiliki jalan kembali menuju Tuhan. Melalui bahasa yang sederhana namun penuh makna, puisi ini menjadi pengingat bahwa di balik penderitaan dan keputusasaan, selalu ada cahaya yang menuntun kita pulang — yaitu kesadaran spiritual dan kekuatan doa.

Puisi ini mengingatkan bahwa:

Selain sebagai refleksi pribadi, pesan dalam puisi ini sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kita diajak untuk:

Melalui renungan ini, Deddy Rahman seolah ingin menegaskan bahwa hidup yang baik bukan berarti bebas dari penderitaan, melainkan hidup yang mampu menemukan makna di balik setiap luka. Puisi ini menutup dirinya dengan doa, dan lewat doa pula ia membuka kesadaran pembaca — bahwa dalam setiap kegelapan, selalu ada sinar harapan dari Tuhan yang tak pernah padam.

[Sumber Puisi Deddy
Rahman]
(https://web.facebook.com/story.php?story_fbid=1543298862431298&id=100002535979721&_rdc=1&_rdr)

Tag: red

← Kembali ke Beranda