Ketika Radikalis dan Moderat 11 12: Rahasia Umum Persekongkolan Sunyi

Rohmat Darsono • 📅 18 Mei 2025

Mengungkap peran tersembunyi kaum moderat dalam kekerasan sosial, intoleransi, dan pelanggaran kemanusiaan.

I. Pendahuluan

Bayangkan sebuah situasi yang tampak sederhana namun menyimpan ironi mendalam: seorang korban tak berdaya, wajahnya lebam karena pukulan bertubi-tubi dari seorang radikalis. Namun yang lebih mengganggu bukan hanya sang pemukul, melainkan seseorang yang memegangi tubuh korban agar tidak bisa melawan atau melarikan diri, ia adalah seorang moderat.

Gambaran ini bukan sekadar adegan dramatis, melainkan cerminan dari dinamika kekerasan yang sering terjadi di tengah masyarakat. Ketika kita berbicara tentang radikalisme, fokus biasanya tertuju pada pelaku utama yang tampil agresif dan terbuka. Namun, bagaimana dengan mereka yang berdiri di samping, tidak memukul tetapi turut memastikan korban tetap dalam posisi lemah?

Pertanyaan pun muncul: siapa sebenarnya pelaku kekerasan dalam situasi ini? Apakah hanya si pemukul yang patut disalahkan? Atau justru persekongkolan diam-diam dari pihak moderat yang membuat kekerasan itu terus berlangsung?

Artikel ini bertujuan mengupas lebih dalam fenomena persekongkolan sunyi antara radikalis dan moderat, sebuah kerja sama yang tak selalu disadari, namun nyata berdampak. Dengan menggali peran tersembunyi para "moderat", kita diajak untuk melihat ulang bagaimana kekerasan kolektif bukan hanya soal siapa yang memukul, tetapi juga siapa yang membiarkannya terjadi. Di tengah maraknya isu radikalisasi, intoleransi, dan pembungkaman suara, narasi ini penting untuk dibicarakan secara jujur dan terbuka.

II. Radikalis: Pelaku yang Terang-Terangan

Dalam konteks sosial, politik, dan agama, radikalis sering diartikan sebagai individu atau kelompok yang menganut paham ekstrem dan bersedia melakukan perubahan drastis dengan cara-cara yang tidak konvensional, termasuk kekerasan. Mereka menolak kompromi, menolak keberagaman pandangan, dan kerap menganggap hanya mereka yang memiliki kebenaran mutlak.

Radikalisme muncul dalam berbagai bentuk: radikalisme agama, radikalisme politik, hingga radikalisme identitas. Ciri utamanya adalah dorongan kuat untuk merombak tatanan yang ada melalui jalan paksa. Dalam banyak kasus, mereka menggunakan kekerasan fisik, ancaman, propaganda, bahkan teror sebagai alat perjuangan. Bagi mereka, kekerasan bukan sekadar efek samping, tetapi justru dianggap sebagai bagian sah dari perjuangan ideologis.

Ciri khas radikalis adalah sikap anti-toleransi dan pendekatan hitam-putih terhadap perbedaan. Mereka memandang lawan ideologinya bukan hanya sebagai pihak yang salah, tetapi juga sebagai ancaman yang harus dilenyapkan. Itulah sebabnya radikalis kerap tampil sebagai pelaku kekerasan yang terang-terangan, mereka percaya apa yang mereka lakukan adalah tindakan suci atau mulia.

Tak jarang, para radikalis membalut kekerasannya dengan pembenaran moral atau agama. Mereka menyebut tindakan mereka sebagai "jihad", "pembelaan terhadap kebenaran", atau "perjuangan membela Tuhan dan bangsa". Framing ini digunakan untuk membangun legitimasi dan menarik dukungan dari simpatisan yang mungkin tidak terlibat langsung, tetapi setuju secara ideologis.

Dalam masyarakat yang permisif terhadap ujaran kebencian atau intoleransi, radikalis memiliki ruang tumbuh yang luas. Mereka memanfaatkan celah hukum, lemahnya edukasi kritis, dan diamnya kelompok moderat untuk memperluas pengaruhnya. Dengan demikian, radikalis bukan hanya masalah individu, tetapi ancaman sistemik yang harus dikenali sejak dini.

III. Moderat: Penonton, Penengah, atau Pendukung Sunyi?

Dalam diskursus sosial dan politik, istilah moderat kerap dilekatkan pada individu atau kelompok yang dianggap berada di tengah, tidak ekstrem, tidak keras, dan cenderung mengedepankan kompromi. Masyarakat umumnya menaruh harapan besar pada kalangan moderat sebagai jembatan yang mampu meredakan ketegangan antara kelompok-kelompok berseberangan. Mereka diharapkan menjadi penyeimbang, pembawa damai, dan pelindung nilai-nilai keberagaman.

Namun dalam praktiknya, tidak semua moderat menjalankan peran ini secara aktif. Di banyak situasi, kalangan moderat justru tampil sebagai penonton pasif, atau bahkan tanpa sadar menjadi bagian dari masalah. Dalam ilustrasi yang sering muncul dalam wacana publik, seorang radikalis memukul korban, sementara sang moderat justru memegangi tubuh korban agar tidak bisa melawan. Ini bukan sekadar metafora, tetapi refleksi nyata dari bagaimana sebagian kalangan moderat justru memfasilitasi kekerasan, baik secara langsung maupun melalui diamnya mereka.

Diam bukan selalu netral. Ketika moderat tidak bersuara menghadapi intoleransi, kekerasan berbasis ideologi, atau ujaran kebencian, mereka sesungguhnya sedang memberi ruang bagi radikalisme untuk berkembang. Tindakan "memegangi korban" ini bisa bermacam-macam bentuknya: membenarkan narasi pelaku, menolak membela korban karena takut dicap berpihak, hingga menyamakan posisi antara penindas dan yang ditindas.

Alasannya sering kali terdengar masuk akal: tidak ingin terlibat konflik, ingin menjaga perdamaian, atau menjaga kestabilan sosial. Namun, sikap ini justru bisa menjadikan mereka sebagai kolaborator pasif dari kekerasan yang terjadi. Dalam banyak kasus, kekerasan tidak akan berlarut jika moderat berani bersuara, berdiri di sisi korban, dan menolak persekongkolan diam-diam.

Moderat yang gagal bersikap kritis dalam menghadapi radikalisme berpotensi kehilangan legitimasi moralnya. Alih-alih menjadi pelindung nilai-nilai moderat, mereka berubah menjadi pelindung status quo yang timpang. Ini adalah persekongkolan sunyi yang jarang dibicarakan, tetapi sangat mematikan.

IV. Rahasia Umum yang Tak Dibicarakan

Persekongkolan sunyi adalah istilah untuk menggambarkan kolusi diam-diam antara pelaku kekerasan dan mereka yang memilih bungkam. Ini bukan teori konspirasi, melainkan kenyataan sosial yang tersebar luas namun jarang disorot secara kritis. Dalam banyak kasus, pelaku utama bukan satu-satunya penyebab kekerasan yang berulang, diamnya orang-orang di sekitarnya adalah bagian dari sistem kekerasan itu sendiri.

Fenomena persekongkolan sunyi ini bisa ditemukan dalam berbagai bentuk di masyarakat. Misalnya, ketika intoleransi agama dibiarkan berlangsung tanpa perlawanan dari kelompok yang lebih luas. Atau ketika diskriminasi terhadap kelompok minoritas dianggap sebagai hal “biasa” dan tidak layak diperjuangkan. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa mendengar kekerasan verbal atau pelecehan berbasis identitas yang dibiarkan begitu saja, tanpa teguran, tanpa pembelaan.

Semua ini menunjukkan betapa normalnya kekerasan di mata publik, selama bukan kita yang jadi korban. Inilah yang membuat persekongkolan sunyi menjadi rahasia umum: semua orang tahu, tapi tak banyak yang berani bicara. Ketika kekerasan menjadi bagian dari rutinitas sosial, maka kita sedang menciptakan budaya impunitas di mana pelaku merasa aman, dan korban merasa sendirian.

Yang memperparah situasi adalah sikap diam dari pihak-pihak yang seharusnya menjadi penyeimbang: media massa, lembaga negara, dan tokoh publik. Alih-alih membongkar ketimpangan, sebagian media justru memilih memainkan narasi netral yang menyamakan posisi antara pelaku dan korban. Beberapa tokoh bahkan memilih bersembunyi di balik jargon “jaga persatuan”, padahal yang sedang terjadi adalah pembiaran terhadap kekerasan.

Lembaga pendidikan, institusi keagamaan, dan aparat penegak hukum pun tak luput dari sorotan. Ketika mereka memilih diam atau mengambil sikap “netral”, mereka sedang turut menjaga struktur kekerasan agar tetap berjalan. Persekongkolan ini tidak berlangsung secara formal, tetapi berlangsung terus-menerus, melalui pembiaran, pengaburan fakta, dan pengabaian suara korban.

Dengan kata lain, rahasia umum ini menjadi kekuatan tak terlihat yang memperpanjang usia radikalisme dan kekerasan. Selama persekongkolan sunyi tidak dibongkar dan dikritisi secara terbuka, upaya melawan radikalisme hanya akan menyentuh permukaan.

V. Konsekuensi bagi Korban

Dalam setiap tindakan kekerasan berbasis ideologi, agama, atau politik, korban selalu menanggung beban paling berat. Namun yang sering luput dari perhatian adalah bahwa penderitaan mereka bukan hanya akibat kekerasan fisik yang dilakukan oleh radikalis, melainkan juga akibat pengkhianatan diam-diam dari para moderat, yang memilih untuk tidak membela, bahkan membantu melanggengkan kekerasan itu.

Inilah yang disebut sebagai kekerasan ganda. Di satu sisi, tubuh mereka dihancurkan oleh pukulan, intimidasi, atau pengucilan yang dilakukan secara terang-terangan. Di sisi lain, jiwa mereka terluka lebih dalam karena menyadari bahwa orang-orang yang seharusnya melindungi, bersuara, atau berdiri di sisi keadilan justru diam, atau lebih buruk: memegangi mereka saat diserang.

Akibat langsung dari persekongkolan sunyi ini adalah hilangnya rasa percaya terhadap ruang-ruang aman. Sekolah, tempat ibadah, institusi hukum, bahkan lingkungan sosial yang dulu dianggap netral, mulai dipandang dengan curiga. Bagi korban, setiap diam bisa berarti ancaman, dan setiap ajakan “jangan diperbesar” bisa terdengar seperti bentuk baru dari pembungkaman.

Lebih dari itu, solidaritas sosial yang semestinya menjadi benteng terakhir pun runtuh. Ketika masyarakat lebih peduli pada stabilitas daripada keadilan, korban mulai merasa bahwa keberadaannya tidak diinginkan. Mereka menjadi asing di tempat yang dulu mereka anggap rumah.

Dalam jangka panjang, situasi ini mendorong normalisasi kekerasan. Jika kekerasan yang terjadi tidak ditanggapi secara serius, maka ia akan dianggap biasa. Generasi berikutnya akan tumbuh dalam budaya yang menganggap wajar pemukulan karena berbeda pandangan, pengucilan karena berbeda keyakinan, atau pelabelan karena berbeda identitas.

Tak hanya itu, dampaknya meluas pada pembungkaman suara korban. Mereka enggan bersuara karena takut dianggap pembuat masalah, atau karena trauma akan pengkhianatan yang pernah mereka alami. Ini melahirkan luka kolektif: trauma sosial yang sulit sembuh karena tidak pernah benar-benar diakui.

Ketika suara korban terus dibungkam dan kekerasan terus dinormalkan, maka kita sedang menciptakan masyarakat yang rapuh secara moral, di mana ketidakadilan dibungkus sebagai netralitas, dan kejahatan berlindung di balik nama perdamaian.

VI. Menolak Netralitas yang Berbahaya

Di tengah konflik sosial, ketegangan ideologis, atau ketidakadilan struktural, banyak orang memilih bersikap netral, dengan dalih ingin menjaga kedamaian atau menghindari konflik. Tapi dalam kenyataan yang penuh ketimpangan, netralitas bukanlah posisi moral, melainkan bentuk pembiaran yang membahayakan korban dan menguntungkan pelaku.

Ketika seseorang bersikap netral di hadapan ketidakadilan, ia sejatinya sedang memihak pada status quo, yang sering kali timpang dan penuh kekerasan. Dalam konteks kekerasan kolektif, seperti yang dilakukan oleh radikalis terhadap kelompok tertentu, sikap diam atau enggan bersikap dari kalangan moderat bukanlah solusi, melainkan bagian dari masalah itu sendiri.

Moderat yang diam, atau yang "memegangi" korban agar bisa dipukul tanpa perlawanan, sedang memperpanjang usia kekerasan dan menormalisasi ketidakadilan. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa netralitas mereka membuka ruang bagi pelaku untuk merasa dibenarkan. Dalam situasi ini, yang dibutuhkan bukan sikap netral, tapi keberpihakan yang tegas terhadap keadilan.

Sikap netral sering kali hadir dalam narasi “kita semua salah”, “jangan saling menyalahkan”, atau “yang penting damai”. Padahal, perdamaian sejati tidak lahir dari kompromi dengan kekerasan, melainkan dari keberanian untuk menyebut pelaku sebagai pelaku, dan berdiri di sisi korban tanpa ragu.

Inilah saatnya menolak netralitas yang berbahaya dan mulai membangun budaya keberpihakan terhadap yang tertindas. Dalam masyarakat yang beradab, memihak korban kekerasan bukan tindakan ekstrem, melainkan bentuk dasar dari kemanusiaan. Tanpa sikap seperti ini, kita akan terus hidup dalam ilusi kedamaian yang rapuh, di atas penderitaan orang lain yang dibungkam.

Sikap moderat yang sejati bukan tentang mengambil posisi di tengah, melainkan berdiri tegas melawan kekerasan, siapa pun pelakunya, baik yang membawa nama agama, ideologi, negara, atau mayoritas. Karena di dunia yang tidak adil, diam bukan emas, diam adalah izin.

✦ VII. Intermezzo: Bicara dengan Musuh, Bukan Teman

“If you want to make peace, you don't talk to your friends. You talk to your enemies.”Desmond Tutu

Kutipan terkenal ini bukan sekadar retorika moral. Ia mencerminkan realitas pahit dari setiap konflik: perdamaian sejati tidak lahir dari kenyamanan bersama teman, tetapi dari keberanian menjangkau mereka yang menyakiti kita.

Dalam konteks persekongkolan sunyi—ketika radikalis memukul dan moderat memegangi—kutipan ini menjadi cermin. Karena terkadang, yang tampak sebagai musuh terang-terangan justru lebih mudah dikenali, sementara yang memelihara kekerasan dengan diam atau sikap "netral" justru sulit diajak berdamai karena mereka menyangkal keterlibatannya.

Berbicara kepada musuh membutuhkan dua hal:

  1. Keberanian untuk melihat kemanusiaan dalam mereka yang menyakiti.
  2. Kesediaan untuk tidak menyederhanakan konflik hanya sebagai hitam-putih.

Jika kita ingin membangun ruang sosial yang adil, maka upaya dialog harus diarahkan bukan hanya pada mereka yang sejalan, tetapi juga pada pihak yang selama ini kita anggap bagian dari masalah—baik karena kekerasannya, maupun karena diamnya.

✦ VIII. Renungan: Ketika Orang Baik Memilih Diam

“Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik.”Ali bin Abi Thalib

Kata-kata ini menelanjangi akar dari banyak kekacauan sosial: bukan hanya karena kejahatan yang begitu beringas, tetapi karena kebaikan yang terlalu pasif. Dalam konteks "radikalis memukul, moderat memegangi", kutipan ini terasa seperti peringatan abadi—bahwa diam adalah bentuk persetujuan yang paling sunyi, namun paling melukai.

Orang-orang baik yang enggan bersuara demi kenyamanan sosial atau keharmonisan palsu justru berperan dalam memelihara siklus kekerasan dan ketidakadilan. Mereka sering kali tidak sadar bahwa:

Ali bin Abi Thalib, yang hidup dalam masa penuh fitnah dan perpecahan, tahu persis bahwa keberanian moral bukan sekadar menjauhi kejahatan, tetapi berani menantangnya, meski seorang diri.

Dalam dunia yang penuh kompromi dan ketakutan sosial, kutipan ini menjadi seruan untuk keberanian sipil: bahwa kebaikan harus vokal, harus aktif, harus berani tidak nyaman. Karena jika kebaikan terus diam, maka kezaliman akan terus merasa aman.

✦ IX. Perspektif Islam: Menolong Saudaramu, Termasuk Saat Ia Berbuat Zalim

Dalam salah satu hadits yang masyhur, Rasulullah ﷺ menyampaikan pesan mendalam tentang tanggung jawab sosial dan spiritual umat Islam terhadap sesamanya:

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim maupun yang dizalimi.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kami paham bagaimana menolong orang yang dizalimi. Tapi bagaimana menolong orang yang berbuat zalim?” Nabi ﷺ menjawab: “Pegang tangannya—hentikan dia dari melakukan kezaliman.” (HR. al-Bukhari no. 2264, Musnad Ahmad no. 11511)

Pesan ini tidak hanya menekankan pentingnya solidaritas terhadap korban, tetapi juga menegaskan bahwa mencegah pelaku dari terus menzalimi adalah bentuk pertolongan yang lebih dalam. Islam memandang kezaliman sebagai kerusakan yang menyentuh dua sisi:

  1. Korban yang menderita,
  2. Pelaku yang merusak dirinya sendiri secara moral dan spiritual.

Dengan demikian, menjadi "moderat" yang membiarkan atau bahkan memfasilitasi kezaliman bukanlah netralitas, tetapi bentuk pengkhianatan terhadap nilai keadilan dalam Islam. Diam bukan hanya membiarkan korban jatuh—tetapi juga membiarkan pelaku terjerumus lebih dalam ke dalam dosa.

Menahan tangan pelaku zalim adalah cinta. Membiarkannya? Itu adalah kezaliman ganda—bagi korban dan bagi pelaku.

Hadits ini menutup ruang untuk pembelaan diri semacam: "Saya tidak ikut memukul, saya hanya berada di tempat kejadian." Karena dalam pandangan Islam, keberpihakan terhadap keadilan adalah kewajiban aktif—bukan sekadar sikap pasif atau penghindaran konflik.

X. Penutup

Persekongkolan sunyi bukanlah mitos. Ia nyata, hadir di sekitar kita, dan berlangsung setiap kali ada ketidakadilan yang dibiarkan. Setiap kali korban kekerasan disakiti oleh radikalis, dan yang lainnya—dengan dalih moderat atau netral—justru membantu menahan, membungkam, atau sekadar berpaling, maka saat itu pula sistem kekerasan bekerja dengan lancar. Kita semua memiliki peran, baik secara aktif maupun pasif, dalam mempertahankan atau melawan ketimpangan ini.

Kini saatnya refleksi pribadi. Dalam perjalanan hidup, adakah momen di mana kita secara simbolik pernah “memegangi korban”? Mungkin saat kita membiarkan teman dibully karena keyakinannya. Mungkin saat kita membenarkan narasi mayoritas dan membungkam suara minoritas. Atau ketika kita memilih diam karena takut dianggap memihak, padahal yang kita hindari adalah keberpihakan terhadap yang benar.

Diam tidak pernah netral jika ketidakadilan sedang berlangsung. Keberanian moral bukan sekadar menolak kekerasan, tetapi juga menolak untuk menjadi bagian dari sistem yang memfasilitasi kekerasan itu, meski secara diam-diam.

Harapan terbesar dari tulisan ini adalah lahirnya keberanian—bukan dari mereka yang sudah lantang, tetapi dari mereka yang selama ini memilih diam. Keberanian untuk berdiri di sisi korban, untuk menyebut salah sebagai salah, dan untuk mengakhiri persekongkolan sunyi yang selama ini kita anggap biasa saja.

Karena pada akhirnya, kekerasan tidak bisa hidup tanpa kolaborator diam-diam. Dan peradaban hanya akan tumbuh ketika keberpihakan kepada kebenaran menjadi kebiasaan, bukan pengecualian.

Tag: red

← Kembali ke Beranda